Rabu, 03 Oktober 2012

Autisme

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Selama tujuh tahun terakhir ini, Pemerintah Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam menstabilkan perekonomian, sosial, politik dan keamanan nasional yang ditandai dengan terjadinya krisi moneter 1998, bom Bali 1 dan 2, bom kedutaan Australia, bencana Tsunami dan Nias, flu burung, dan lain sebagainya.
Sebagai akibat dari ketidakstabilan politik dan ekonomi tersebut, perhatian pemerintah terhadap pendidikan untuk anak dengan kebutuhan khusus bukanlah menjadi prioritas utama, meskipun topik pemberitaan di media massa mengenai Autisme semakin sering muncul. Gencarnya pemberitaan di media ini disebabkan karena masyarakat, terutama keluarga dan pendidik dari anak-anak Autis merasa haus akan informasi. Baik mengenai bagaimana mengenali ciri-ciri Autis secara dini maupun mengenai penanganan dan pendidikan anak-anak ini selanjutnya.
Dari segi pendidikan sekolah, menurut data USAID, dana pendidikan untuk Indonesia diperkirakan mencapai 1%-2% dari GDP. Angka ini adalah angka terendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Walaupun Pemerintah baru-baru ini telah sepakat untuk meningkatkan dana pendidikan menjadi 20% dari anggaran, Indonesia selalu dihantui akan adanya ketidakpastian atas tercapainya target tersebut. Berdasarkan data USAID, disebutkan pula bahwa porsi terbesar untuk dana pendidikan adalah untuk gaji guru dan administrasi. Akibatnya, alokasi dana untuk pendidikan dan pelatihan guru serta peralatan pendidikan tidak mendapatkan porsi yang memadai.
Minimnya dukungan pemerintah untuk pendidikan khusus dan kurangnya pelatihan guru mengakibatkan rendahnya motivasi para guru untuk memberikan yang terbaik dalam mengajar anak-anak penyandang Autis di sisi lain, para guru yang bersemangat tulus ingin membantu anak-anak ini, tidak dapat membantu secara maksimal karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang memadai.

B. Tujuan
Mengetahui dan memhami apa itu Autisme serta bidang-bidang yang menjadi gangguan bagi anak dengan Autisme.

C. Metode
Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode kajian literatur, yaitu dengan cara mengutip dari data yang telah ada lalu merevisi kembali. 
BAB II
ISI
A. Pengertian Autisme
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 5 gangguan dalam bidang:
1. Interaksi sosial,
2. Komunikasi (bahasa dan bicara),
3. Pola bermain,
4. Gangguan sensorik dan motorik,
5. Perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun. Autisme dalam Diagnoctic and Statistical Manual of Mental merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
Autistic Disorder (Autism). Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
Asperger’s Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS). Merujuk pada istilah atypical autisma, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autiame lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak dengan autisme adalah gangguan yang dialami saat masa balita yang membuat dia tidak dapat bersosial dengan sebagaimana mestinya atau mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara normal, yang berakibat anak terisolasi dari manusia lain.
Anak dengan autisme mengalami gangguan dalam 6 bidang, yaitu interaksi sosial, komunikasi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik, terhambatnya perkembangan (abnormal).
B. Saran
Peningkatan penderita autisme semakin tahun semakin meningkat. Oleh karena itu kita dituntut agar lebih peka terhadap pengidap.

Dari Berbagai Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar