BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Selama tujuh tahun terakhir ini, Pemerintah
Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam menstabilkan perekonomian,
sosial, politik dan keamanan nasional yang ditandai dengan terjadinya krisi
moneter 1998, bom Bali 1 dan 2, bom kedutaan Australia, bencana Tsunami dan
Nias, flu burung, dan lain sebagainya.
Sebagai akibat dari ketidakstabilan politik dan
ekonomi tersebut, perhatian pemerintah terhadap pendidikan untuk anak dengan
kebutuhan khusus bukanlah menjadi prioritas utama, meskipun topik pemberitaan
di media massa mengenai Autisme semakin sering muncul. Gencarnya pemberitaan di
media ini disebabkan karena masyarakat, terutama keluarga dan pendidik dari
anak-anak Autis merasa haus akan informasi. Baik mengenai bagaimana mengenali
ciri-ciri Autis secara dini maupun mengenai penanganan dan pendidikan anak-anak
ini selanjutnya.
Dari segi pendidikan sekolah, menurut data USAID,
dana pendidikan untuk Indonesia diperkirakan mencapai 1%-2% dari GDP. Angka ini
adalah angka terendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Walaupun Pemerintah baru-baru ini telah sepakat untuk meningkatkan dana
pendidikan menjadi 20% dari anggaran, Indonesia selalu dihantui akan adanya
ketidakpastian atas tercapainya target tersebut. Berdasarkan data USAID,
disebutkan pula bahwa porsi terbesar untuk dana pendidikan adalah untuk gaji
guru dan administrasi. Akibatnya, alokasi dana untuk pendidikan dan pelatihan
guru serta peralatan pendidikan tidak mendapatkan porsi yang memadai.
Minimnya dukungan pemerintah untuk pendidikan
khusus dan kurangnya pelatihan guru mengakibatkan rendahnya motivasi para guru
untuk memberikan yang terbaik dalam mengajar anak-anak penyandang Autis di sisi
lain, para guru yang bersemangat tulus ingin membantu anak-anak ini, tidak
dapat membantu secara maksimal karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang
memadai.
B. Tujuan
Mengetahui dan memhami
apa itu Autisme serta bidang-bidang yang menjadi gangguan bagi anak dengan
Autisme.
C. Metode
Dalam pembuatan makalah
ini penulis menggunakan metode kajian literatur, yaitu dengan cara mengutip
dari data yang telah ada lalu merevisi kembali.
BAB II
ISI
A. Pengertian Autisme
Autisme adalah
suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang
membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut
Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah
adanya 5 gangguan dalam bidang:
1. Interaksi sosial,
2. Komunikasi (bahasa dan bicara),
3. Pola bermain,
4. Gangguan sensorik dan motorik,
5. Perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat
masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun. Autisme dalam Diagnoctic and
Statistical Manual of Mental merupakan salah satu dari lima jenis gangguan
dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) Gangguan
perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan
beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD,
yaitu:
Autistic Disorder (Autism). Muncul sebelum usia
3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan
kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat
dan aktivitas.
Asperger’s
Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya
minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan
bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas
rata-rata.
Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise
Specified (PDD-NOS). Merujuk pada istilah atypical autisma, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak
menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau
Rett Syndrome).
Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada anak
perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan
yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya;
kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan
tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang
normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan
kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not
Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika
Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang
(Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with
Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan
bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung
memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun.
Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan
berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang
lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang
tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang
rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi.
Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik,
matematika, menggambar).
Prevalensi autisme
menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism
Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987
diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada
tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat
oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka
di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autiame lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak dengan autisme adalah gangguan yang dialami
saat masa balita yang membuat dia tidak dapat bersosial dengan sebagaimana mestinya
atau mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara normal, yang berakibat anak
terisolasi dari manusia lain.
Anak dengan autisme mengalami gangguan dalam 6
bidang, yaitu interaksi sosial, komunikasi, pola bermain, gangguan sensorik dan
motorik, terhambatnya perkembangan (abnormal).
B. Saran
Peningkatan penderita
autisme semakin tahun semakin meningkat. Oleh karena itu kita dituntut agar
lebih peka terhadap pengidap.
Dari Berbagai Sumber